Sabtu, 21 Maret 2015

Then, Kresna and Global English at the same time



Sedikit mereview sebelumnya kalau aku pernah belajar Preparation of Toefl selama sebulan mines seminggu di Elfast. Karena skor toeflku belum mencapai target, aku nyoba ngambil program toefl lagi di tempat kursusan lain yang direkomendasikan temenku, yaitu Kresna dan Global English.
Kresna memiliki program Planet English sebagai ciri khas yang sudah diketahui banyak orang. Kalau niatnya emang belajar bahasa inggris non context maka pilihlah Planet English karena materinya paket lengkap yaitu vocab+grammar+speaking.  Sedangkan niatku belajar di sini untuk meningkatkan skor toefl jadi aku pilih program yang berfokus pada toefl. Rincian program yang aku ikuti di Kresna sebagai berikut :
1
Toefl Preparation 1 : Listening Comprehension
1 bulan
07.00 – 08.30
Rp 75.000,-
2
Toefl Preparation 2 : Structure and Written Ekpression
1 bulan
10.00 – 11.30
Rp 75.000,-
3
Toefl Preparation 3 : Reading Comprehension
1 bulan
08.30 – 10.00
Rp 75.000,-
4
Vocabulary in context
2 minggu
18.30 – 20.00
Bonus karena ngambil TP 3

Jadwal kelas yang tertera di atas adalah waktu untuk periode 10. Kalau periode 25 masuknya dimulai jam setengah satu siang.  Biaya yang ditawarkan cukup bersahabat. Mungkin kelasnya tidak semewah Elfast atau Global English, tapi aku tetap suka karena suasana yang sepi dan pohon rimbun di sana sini. Rasanya beda, pikiran lebih fresh dan fokus. Dengan cat dinding warna putih semu abu-abu kecoklatan karena efek debu tidak lantas membuatku nething duluan. Memang tempatnya seperti rumah yang sudah sangat tua, tapi suasana kelasnya tidak kalah efektif dengan Elfast atau Global English. Sebenarnya pernah terbesit sebuah pertanyaan di pikiranku, bukankah Kresna adalah lembaga yang sudah lama berdiri bahkan seangkatan dengan Elfast, pendaftar Kresna juga sama banyaknya, tapi kenapa tempatnya tidak dibikin lebih mewah seperti kursusan berkembang pada umumnya?. Itu pertanyaan yang belum terjawab sampai sekarang. Yaa, biarlah tetap terpendam dalam hati :D.
Terlepas dari kondisi fisik Kresna. Over all, proses belajarnya menyenangkan. Aku mudah menyerap penjelasan dari para tentor di tempat ini walaupun sedikit ngantuk di kelas Reading karena begitu banyak bacaan yang membuat mata lelah.  Tapi tentornya kadang menyelingi dengan kegiatan menghafal dan diskusi jadi tidak selamanya berakhir membosankan. Seperti yang tergambar di foto ini.

Kalau di kelas Listening, semangatku menyala karena masih pagi dan fresh belum ngantuk, apalagi sound systemnya Kresna itu mantep banget.  Nah, paling suka kelas Structure dan Written Expression, aku semangat banget karena setelah dikasih materi langsung diterapkan ke soal-soal jadi serasa berpetualang terus. So far, di tempat ini aku merasa “Klik”, hehe. I recommended this place!.
Selain di Kresna, aku juga ngambil program Listening di Global English dengan biaya Rp 120.000,- durasi 2 minggu. Aku sadar banget kalau lemah di listening jadi aku pengen belajar lebih mendalam. But you should know this, jangan ngambil listening di Kresna dan Global English secara bersamaan karena materi yang mereka gunakan ternyata hampir sama, referensinya dari Longman. Tapi mungkin ada dari kamu yang tetep enjoy untuk mengulang materi agar lebih paham.
Teman sekelasku di Global English tidak sebanyak di Kresna dan Elfast. Hanya sekitar 6 anak, sedangkan Kresna dan Elfast ada 30an anak. But, it does not matter for me. Kalau nggak banyak orang, suasananya jadi lebih kondusif. Apalagi peran si blower yang selalu berhasil menghilangkan kegerahan dalam sekali tiupan, hehe. Setiap kelas dipasang kipas angin besar, jadi nggak perlu kipas-kipas pake buku. Kelasku letaknya di halaman belakang. Gedungnya seperti belum lama dibangun. Catnya masih tebal berwarna biru, tempat sampahnya masih keliatan baru, meja kursinya juga masih bagus. So far, menyenangkan. Di bawah ini adalah foto kelasku di GE.


Tes sementara skor listeningku mencapai 510. Alhamdulillah, tapi aku belum puas karena kemampuanku masih labil banget. Di hari yang sama aku tes di tempat lain, skorku justru 410, skor terburuk yang pernah aku dapatkan. Oh God, what’s going on??????. Gara-gara skor 410, aku mengalami kesedihan yang mendalam, seakan dunia ini terasa hampa (lebay.com). Ya sedih boleh lah, tapi aku berusaha tidak membuat hal itu berlarut-larut. Santaiiii aja kaya di pantai (*_*).
Toefl itu emang gampang-gampang sulit. Kalau belum paham, pasti sulit. Kalau udah paham teori mapun triknya tentu mudah. Untuk bisa paham dituntut kerja keras dari diri sendiri. Selain belajar di kursusan, kita juga perlu banyakin praktik sendiri. Itu akan membantu progress kita dengan cepat.
Hasil final exam dari Kresna dan Global English akan aku ceritakan di update an selanjutnya karena saat ini aku masih menjalani proses belajar di sana. Semoga saja hasilnya memuaskan pake BANGET, aamiin. Mari menyemangati diri sendiri, I MUST BE REACH IT!. :)

First time in “KAMPUNG INGGRIS” Pare, I choose ELFAST


Awalnya aku sangat penasaran, secara belum pernah  datang ke tempat itu. Tempat yang begitu banyak orang rekomendasikan untuk mereka yang mau belajar bahasa inggris. Sudah sejak lulus SMK, aku ingin belajar di sana. Karena berbagai alasan, niatku itu belum terealisasikan. Sekarang, aku sudah lulus dari perguruan tinggi jurusan Pgsd. Dari tahun 2013, aku sudah belajar kerja di lembaga SD Negeri sebagai tenaga honorer. Menjadi tenaga honorer tidak masuk dalam daftar mimpiku. Meskipun aku sadar semua kesuksesan dimulai dari bawah. Tetapi aku punya mimpi lain yang menekan hasratku untuk mencoba menjalani suatu proses. Dari mimpi-mimpi itulah aku menguatkan keinginan untuk belajar di Kampung Inggris Pare. Aku punya satu tujuan yang akan kujadikan dasar dan titik fokusku belajar di sana. Aku ingin mendapatkan beasiswa S2. Tidak hanya aku, hampir semua orang yang belajar di kampung inggris Pare membawa serta mimpi mereka. Ada yang ingin jadi guru bahasa inggris, tour guide, going abroad,  continue to the master degree like me, etc. Kalian tahu kan, kalau mau dapet beasiswa study di dalam negeri ataupun luar negeri menyaratkan skor toefl minimal 500. Nah, aku belajar di Pare dengan target capaian skor toefl minimal 500. Nggak muluk harus universitas di Jepang, Aussie, Singapura (yang ini sebenarnya pengen banget), apalagi Amerika. Dengan otak yang pas-pasan gini , aku cukup bersyukur jika bisa dapetin full beasiswa di dalam negeri, aamiin (*.*).

Sebelum mendaftar kursus, aku survey tempat-tempat kursus. Aku nggak harus menginap di sana untuk mengenali beberapa tempat kursusan, karena jarak rumahku dari Pare hanya sekitar 1 jam jika ditempuh sepeda motor. Aku mengelilingi desa tulungrejo-Pare, melihat dari luar sambil meminta brosur dari masing-masing tempat kursusan yang ada di sana. Tempat kursusan yang aku mintai brosur diantaranya: Elfast, Kresna, Acces-Es, Peace, Global E, Oxford, Mahesa, Mervelous, Test,  dan beberapa yang aku nggak inget karena brosurnya udah hilang. Setelah melewati berbagai pertimbangan, akhirnya untuk bulan pertama aku milih Pre Toefl di Elfast dengan biaya Rp 210.000,- (Structure and Written E, Listening, Reading). Foto di bawah ini adalah kwitansi pembayaran elfast yang memuat daftar harga dari kesluruhan program, as you know
Kelasnya masuk pagi jam 07.00 s.d 10.00 harinya senin-jumat, kadang sabtu juga kalau pas tentornya pengen ngasih pelajaran tambahan. 

Kelas pertamaku di Elfast dimulai tanggal 10 Januari 2015. Nyampe sana, ruang office dan teras depan udah penuh dengan orang. Aku pun ikut nyembul di sela-sela kerumunan orang yang bertengger di depan papan pengumuman. Setelah mencari-cari, akhirnya aku menemukan namaku di daftar murid kelas Pre Toefl “A” dengan lokasi  kelas di lantai 2, mungkin karena aku daftarnya udah jauh-jauh hari jadi dapat kelas A. Ternyata yang daftar banyak banget lho, sampe ada kelas Pre Toefl “D” dan setiap kelas dihuni rata-rata 30an orang jadi itungan kasarnya Elfast nerima sekitar 120 orang lebih untuk kelas Pre Toefl saja!. Bisa dibayangkan, how is crowded in there!.  Well, kalau ramai pendaftar biasanya menandakan kursusan itu punya keunggulan tersendiri. Berdasarkan pengalamanku belajar di sana selama sebulan, bagiku hasilnya cukup bagus sebagai pemula belajar toefl. Hanya saja rasanya kurang maksimal karena aku absent selama 1 minggu, ada kepentingan yang urgent banget di rumah yang nggak bisa aku tinggalin. Untuk mengejar 1 minggu yang absent itu memang agak sulit. Pas aku masuk kelas setelah satu minggu absent, tentornya menjelaskan pelajaran selanjutnya dengan mengaitkan pelajaran di minggu sebelumnya. Oh God, agak sulit memahaminya -.- jadi aku belajarnya sambil nerka-nerka.

Ujian kelas Pre Toefl dilaksanakan 2 kali di tanggal-tanggal akhir program. Kita bisa milih skor yang paling tinggi dari 2 kali ujian tersebut untuk diabadikan di sertifikat. Untuk skorku sendiri selisihnya sangat sedikit antara ujian pertama dan kedua. Yang pertama 453, yang kedua turun jadi 450. Belum puas bangettt sebenarnya, tapi aku bersyukur dapet segitu, soalnya aku belum pernah les grammar sebelumnya dan 1 minggu yang kulewatkan pasti juga berpengaruh (menghibur diri ceritanya nih :D). Perjalananku untuk mencapai skor toefl minimal 500 tidak berhenti di sini. Sebulan berikutnya aku ngambil kelas lanjutan TOEFL di Elfast juga. Untuk kali ini aku tidak akan menceritakannya karena aku hampir tidak pernah masuk kelas, sekali lagi ada kepentingan yang sangat-sangat urgent yang nggak bisa ditinggalin (T.T). Kalau boleh aku saranin untuk kalian yang ingin belajar di sana, biar hasilnya maksimal sebaiknya benar-benar fokus stay di sana, nggak harus camp kok, kost bisa, yang penting tugasmu sementara belajar, itu aja jangan sambil ngerjakan yang lain. Pastikan juga waktu yang kamu gunakan untuk belajar di sana adalah waktumu yang benar-benar luang.

Perjalananku untuk mencapai skor 500 belum berakhir, sebulan berikutnya aku memantapkan diri untuk daftar Toefl Preparation 1-3 di Kresna. Temenku ada yang bilang katanya di sana biayanya relatif lebih murah tapi bagus. Ok lah aku coba. Karena aku yakin kali ini punya waktu luang selama  1 bulan, aku ngambil juga program Listening for Toefl di Global English.  Cerita lengkapnya seperti apa akan ada di update an selanjutnya.
I know, I (and you) can reach the dream. Semangat !. :)

Selasa, 20 November 2012

This is it !!! Antologiku yang ke 4. Aku cenderung membanggakannya karena tema ceritanya inspiratif, sesuai minatku.
Berikut secuil yang kuambil dari ceritaku yang tergabung dalam Antologi ONE MONTH OF THE YEAR, judulnya TRAUMA LAGU GUGUR BUNGA.



Diawali alunan instrumental lagu Gugur Bunga, lalu gambar-gambar itu bergantian membentang di tembok. Aku menutup mulutku dengan telapak tangan, seketika kedua mataku nanar. Gambar-gambar itu tidak seharusnya dikonsumsi anak-anak!. Aku menggeser pandangan pada siswa-siswi yang duduk di atas karpet, meski tak terlalu jelas tapi aku tahu beberapa mulai meremas kedua lengannya.
Kebebasan masa depan hampir terbelenggu oleh diktator masa lalu. Manakala anak yang belum konkret pemikirannya diperlihatkan secara bertubi-tubi peristiwa bengis dan mengerikan jaman penjajahan. Tujuannya memang untuk menanamkan pentingnya kemerdekaan Indonesia, tetapi anak-anak itu masih terlalu polos untuk memaknai visualisasi tersebut. Yang teringat hanya pembantaian dan darah yang tumpah ruah, video tersebut berhasil membuat mereka ketakutan higga sulit tidur. Lagu Gugur Bunga yang menjadi pengiring film dokumenter tersebut layaknya deathbell, menyayat syaraf demi syaraf otak ketika lagu itu mulai melantun. Lagu yang seharusnya dirasakan, dihayati, direnungkan secara hikmat. Kini bagi beberapa anak, lagu tersebut menjadi momok yang menakutkan.
Aku semakin menajamkan pandangan. Drama apa yang kulihat di tempat ini? Suasana nampak mencekam. Rasa takut dengan cepat melilit jiwa malaikat-malaikat kecilku. Sebagian menelungkup, gemetar dan berkeringat. Sebagian lagi nampak terpaku sambil menyaksikan pemutaran film dokumenter pra merdeka dengan saksama, namun tidak ada yang terbias dari kedua matanya. Ya, kosong! yang kulihat adalah tatapan kosong dan hampa seolah sudah mati rasa. Ohh, tidak! mereka harus diselamatkan!.
Aku beranjak dari tempat dudukku, menatap tajam sambil berjalan cepat menuju operator pemutaran film.
Tatapan aneh menyambutku, Dika mengernyit dan bertanya “Ada apa?”
Tanpa menjawabnya, jariku langsung menggerakkan mouse untuk menekan tombol stop pada layar laptop yang terhubung dengan LCD Proyektor.  “Untuk kali ini saja, biarkan berjalan sesuai caraku,” kataku dengan wajah serius.

Xie xie for all who always support me....^^


Jumat, 26 Oktober 2012







Alhamdulillah, setapak jejakku menuju cita-cita. Meski mungkin masih sangat jauh perjalanannya tapi aku telah memutuskan untuk mencapainya. Buku di atas adalah Antologiku yang pertama, meski rasanya belum signifikan untuk membanggakan ataupun dibanggakan, namun setidaknya semangatku mulai menyala. Ini untukmu Ibu, Ayah, Kakak-kakakku, teman-teman, dan Aku. Terimakasih atas kasih sayang kalian selama ini. Aku mencintai kalian sebagai keping-keping jiwaku.

Aku pasti mencapainya, yaitu menjadi aku di masa depan sebagai Penulis yang menginspirasi dunia. Aamiin.